Beberapa teman bahkan saudara saya mengadopsi homescholing untuk pendidikan anak2 mereka. Berhubung saya juga bergelut dalam dunia pendidikan, berikut pendapat saya tentang homescholing dibandingkan dengan sekolah konvensional.
Konsep homescholing
Konsep awal homescholing adalah menyediakan pendidikan di rumah bagi angkatan usia sekolah yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal karena keterbatasan fisik (cacat tubuh misalnya), psikis, ataupun tidak tersedianya sekolah di area sekitar tempat tinggalnya (misalnya di hutan atau gunung atau pulau terpencil). Namun homescholing sekarang sudah bergerak jauh dari konsep awalnya. Keluarga2 di kota besar seperti Jakarta, mengadopsi homescholing bukan karena alasan di atas, melainkan karena jalanan macet, dsb.
Saya pribadi tidak meragukan kualitas homescholing dari sisi akademis, karena materi homescholing sendiri dirancang dengan bobot yang baik. Namun menurut pandangan saya, ada beberapa perbedaan mendasar antara homescholing dan sekolah konvensional, khususnya bagi perkembangan anak.
Dengan homescholing, anak akan belajar bersama orang tuanya di rumah. Materinya juga setara dengan materi yang diberikan di sekolah. Anak2 bisa lebih enjoy karena mereka belajar dengan cara yang asik, dan belajar bersama orang yang membuat mereka aman, yaitu orang tuanya atau orang di rumah yang dia kenal baik. Namun ada hal2 yang tidak bisa didapatkan anak2 yang belajar homescholing, yaitu lingkungan nyata yang disediakan oleh sekolah konvensional.
Maksudnya begini, dengan bersekolah di sekolah konvensional, anak akan memperoleh pengalaman berharga, seperti misalnya : dia sudah menyelesaikan PR2nya, semua tugas sudah beres. Namun ada teman yang membuatnya jengkel karena meminjam PRnya, sehingga ia merasa tidak nyaman. Pengalaman2 ini sebenarnya akan membuat anak belajar, bagaimana mengembangkan kecerdasan emosinya, bagaimana dia belajar mengontrol emosinya dan menyelesaikan permasalahan yang seharusnya dia tidak dapatkan. Namun demikianlah dunia, dunia itu tidak ideal. Sedangkan pada homescholing, jika anak sudah mengerjakan PR, dia sudah boleh beristirahat. Masalah2 insidentil seperti di atas tidak muncul. Anak selalu berada di dunia yang ideal, yaitu di dunia rumahnya sendiri, dengan orang tuanya sendiri. Kalaupun mereka bisa bermain2 dengan teman2nya, itupun teman2 pilihannya sendiri. Lain halnya dengan sekolah konvensional, si anak mau tidak mau harus berinteraksi dengan teman2 yang kurang dia sukai. Namun justru disitulah waktu bagi si anak untuk mengembangkan dirinya menghandle setiap permasalahan yang ada.
Di sekolah konvensional, anak2 harus belajar bagaimana menyikapi kondisi2 yang kurang nyaman, guru yang galak, teman2 yang menjengkelkan, bahkan sopir2 yang menggodanya ketika pulang sekolah. Di homescholing, anak tidak mengalami itu semua. Itu akan menimbulkan perbedaan yang besar di kemudian hari, ketika si anak beranjak dewasa.
Memang ada banyak keuntungan dari homescholing, khususnya bagi si anak dan orang tua. Anak cuma perlu menghadapi orang tuanya sendiri, yang notabene tidak akan menyakiti mereka. Si orang tua juga memperoleh keuntungan, tidak perlu kena macet di jalan, tidak perlu heboh di pagi hari, ngirit biaya bensin bulanan, belum lagi ngirit uang saku, dsb. Orang tua juga merasa aman, karena anak selalu berada dalam pantauannya. Namun jika dibandingkan dengan pengalaman hidup yang akan didapat oleh si anak, tentunya kurang sebanding.
Pengalaman pribadi
Sebagai orang tua dengan 2 anak kecil, saya juga senang, seandainya anak2 saya selalu aman, nyaman, dan hidup dalam dunia yang ideal. Namun saya lebih berusaha mengendalikan diri saya untuk melihat anak2 saya menghadapi masalah2 di sekolah, bagaimana mereka menghadapi teman2 yang menjengkelkan, dsb. Bagaimanapun juga, anak2 saya harus bisa survive dalam hidup mereka nantinya. Dan memberikan dunia yang ideal bukanlah solusi. Anak2 harus belajar untuk survive dan mengatasi masalah.
Istri saya kebetulan menjabat sebagai kepala sekolah dasar di mana murid2nya kebanyakan adalah orang2 kaya. Saya tahu betul, bagaimana orangtua2 tsb begitu sensitive dengan kondisi anak2nya. Ada masalah sedikit dengan teman2nya, langsung lapor ke istri saya. Kalau sekolah cuma memberi teguran, rasanya kurang puas. Mereka ingin agar anak yang mengganggu anaknya dikeluarkan dari sekolah. Halo…. anak2 saling berinteraksi, itu kan biasa dan bagus tho ? Makanya, seringkali ditemui, anak2 sudah bermain bersama lagi, orangtuanya masih bermusuhan. Lha, yang masih kecil itu orang tuanya atau anak2nya ya ? hehehehe….
Saya meninggalkan anak2 saya untuk sekolah di negeri orang. Tahun lalu saya sempat balik ke Indo selama sebulan. Waktu mengantar anak saya Amanda ke sekolah, dia langsung laporan ke saya “pah, itu lho koster yang suka godain aku”. Pertama2 saya langsung siaga. Biasa, insting orang tua. hahahaha…. maklum lah, zaman sekarang banyak orang jahat. Namun kemudian setelah saya minta bercerita, saya menyimpulkan bahwa itu bukanlah masalah besar. Saya hanya mencari waktu untuk menyapa koster yang bersangkutan, dan berkenalan dengannya sambil ngobrol2. Kan saya ini suami pimpinannya. hehehehe…. Beberapa bulan berlalu, saya check ke Amanda, apakah masih suka digoda, udah engga tuh. Dan hub saya dengan si koster itu masih asik2 aja.
So, back to topic, kesimpulan pendapat saya adalah : ada hal2 yang tidak bisa didapatkan oleh anak dari homescholing, khususnya kesempatan2 untuk mengembangkan kemampuannya khususnya kemampuan emosionalnya. Selanjutnya… terserah pembaca masing2 memfollow-upnya. Cheeers….