Archive for My Opinion

Jiwa yang sehat, itu penting !!

Well…. hampir 3 bulan gue beredar di Indo yang tercinta (cieeee), ada banyak pemandangan sehari-hari yang menarik untuk disimak. Salah satunya adalah banyaknya rumah tangga rumah tangga yang beritanya ribut2 sampe ke telinga gue. Ya tetangga2, sodara2, kenalan2, banyak deh. Semua pasti paham, bahwa berkeluarga itu tidak mudah. Nah, gue cuma ingin ngomong hal ini : saat mencari pacar atau calon pendamping hidup, carilah orang yang jiwanya sehat, atau yang memiliki ketahanan menghandle stress yang baik.

Menurut pengamatan gue, hidup ini tambah hari tambah susah. Kompetisi dalam mencari rezeki tambah ketat. Sementara itu, kebutuhan hidup semakin bertambah. Harga2 semakin tak terjangkau. Hal2 sepele bisa menjadi pemicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Mulai dari hari ini makan apa, sampai setelah ini mau beli apa. Mulai dari kebutuhan pokok untuk hidup, sampai rencana2 sekunder untuk leasure.

Memiliki pasangan yang sehat jiwanya, atau yang memiliki ketahanan menghandle stress yang baik, sangat membantu kita menjaga keutuhan keluarga dan menjalani hidup ini sampai akhir. Beberapa tetangga sempat dikirim ke RSJ karena tidak kuat dalam menghadapi stress dan masalah2 yang timbul dalam keluarga mereka. Sementara yang lain, meskipun masih nampak normal dari penampilannya, tapi mulai aneh dalam perilakunya. Hmm… rasanya berbeda gitu.

Kalau gue ketemu pasangan muda mudi yang lagi dimabuk cinta, ingin rasanya memberitahu, bahwa relationship tidak hanya sekedar hepi2, manis2, indah2, tapi perlu disiasati dengan serius. Banyak kali gue temukan pasangan muda, mulai limbung. Setelah anak lahir, istri tidak lagi sexy dan molek, kebutuhan rumah tangga membengkak berkali lipat, suami mulai tidak mesra lagi, bingung cari rezeki (atau kadang utangan). Hmm….

Kemarin gue lihat tayangan di TV, duit kaget. Di situ ditampilkan keluarga muda yang bayinya disandera rumah sakit karena mereka tidak sanggup membayar biaya kelahiran si bayi. Saat gue lihat pasangan ini, gue hampir tidak percaya. Bagaimana tidak ? Si ibu muda begitu cantik dan berpenampilan layaknya gadis berduit. Rasanya kok tidak meyakinkan bahwa mereka tidak sanggup membayar biaya persalinan. Sementara si suami yang juga cukup keren, ternyata seorang supir angkot, yang tidak memiliki SIM karena tidak punya duit untuk membuat SIM. Well…. memprihatinkan. Tapi begitulah dunia sekarang ini. Penampilan nomer satu…

So, carilah pasangan yang jiwanya sehat. Bisa memandang hidup ini dengan proporsional. Bisa hemat, bisa kerja, bisa mikir panjang. Susah sih dapetnya. Tapi kalau udah dapet, dijamin hidupmu lebih mudah. Kayak gue gini loh… hehehehe…. Thank God for my lovely wife…

Leave a comment »

You are what you ride ???

Ada peribahasa “you are what you ride”. Artinya, (martabat) anda tercermin dari kendaraan apa yang anda gunakan. Peribahasa ini banyak dijadikan patokan bagi cewek2 matre kalau ada cowok lagi PDKT dengan dia. Begitu si cowok mengirim sinyal2 cinta, si cewek akan segera melakukan penilaian : dia ke rumah naik mobil atau motor. Kalau naik motor, langsung dicoret dari bursa calon pacar. Kalau naik mobil, dilihat lagi, mobilnya apa. Kalau Hijet, langsung dicoret. Kalau naiknya BMW or Mercy, langsung dikasih tanda “highly recommended”. hahahaha… Ga peduli juga itu mobilnya siapa.

Pernah seorang teman yang bekerja di Jakarta, dia PDKT dengan seorang cewek yang sudah bekerja juga. Si cowok ini naik motor Yamaha Scorpio. Sudah keren kan ? Itu motor cukup mahal lho harganya. Namun ketika dia menyatakan cintanya ke si cewek, dengan jujur si cewek berkata “aku mau jadi pacarmu, kalau kamu punya mobil”. Gubraaak…. akhirnya, mungkin karena saking cintanya, si teman cowok ini menjual motornya plus membongkar tabungannya, dan membeli mobil sedan Timor. Yaah… walaupun bekas, tapi cukup keren lah…. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Namun karena berat di ongkos, akhirnya si cowok tidak kuat untuk membiayai operasional mobilnya itu. Seiring deal penjualan mobilnya, berakhir pula status mereka sebagai sepasang kekasih. Hahahaha…. ini kejadian nyata lho, bukan rekayasa.

Peribahasa yang sama juga dipakai oleh petugas bank untuk menghadapi calon debitur yang mengajukan pinjaman kredit, atau salesman untuk melayani pembeli. Kalau anda datang dengan mobil mewah (entah itu nyewa atau minjem), anda akan dilayani bak raja. Tapi kalau anda datang dengan ala kadarnya (tidak perlente), dijamin anda akan diacuhkan, atau dilayani dengan asal2an. Orang2 itu akan melayani anda dengan baik, bukan karena mereka respek dengan anda, tapi karena mereka mengincar uang anda.

Tapi saya pikir2 lagi, engga selamanya peribahasa itu berlaku lho. Coba lihat si David Beckham. Mobil BMW yang dibelinya seharga kurang lebih seratus juta rupiah saat dia belum menjadi bintang, saat ini laku terjual lebih dari semilyar rupiah. Sekarang, mobil apa saja yang dia pakai, akan dihargai lebih tinggi dari harga aslinya, hanya karena pernah dipakai oleh David Beckham.

Semalam saya teringat kepada Bpk M.L. Utomo, dekan fak psikologi Unika Soegijapranata Semarang, tempat istri saya dulu kuliah. Beliau sangat bersahaja dengan hanya menggunakan Peugeot 504 tua berwarna putih. Saat saya mencoba mengingat2 beliau, saya jadi terkesan dengan mobil itu. Bagi saya, mobil itu sangat hebat, karena yang menaikinya adalah seorang yang menurut saya sangat hebat di bidangnya. Seorang pendidik yang begitu bersahaja, namun berwibawa. Padahal mobilnya sendiri kalau dijual, paling2 sekitar 6 jutaan saja, kalah mahal dibanding motor yang saya pakai malahan. Namun saya kok tidak memandang pak Utomo rendah karena memakai mobil tua nan murah.

Setelah merenung-renung, saya memperoleh kesimpulan, bahwa orang dinilai bukan dari apa yang dia naiki, apa yang dia pakai. Sampai level tertentu, memang orang akan menilai kita dari apa yang kita pakai. Namun setelah orang tahu kita lebih jauh, orang akan menilai kita dari seperti apa kita seutuhnya. Kulit di permukaan memang selalu tampak halus. Namun kalau kulit itu dibuka, dalamnya akan kelihatan, halus atau tidak. Permukaan air laut memang bergejolak. Namun kalau kita menyelam di dalamnya, tidak seperti yang tampak di permukaan. Kuburan memang tampak indah dan mewah di luar, tapi hanya ada bangkai di dalamnya.

So, saya belajar lagi satu hal : you are NOT what you ride. Kalau saya berusaha meyakinkan orang supaya orang respek terhadap saya dengan barang2 yang saya miliki, maka saya adalah orang yang tidak percaya diri. Namun sebaliknya, kalau saya menilai orang dari apa yang kelihatan di permukaan saja, maka saya adalah orang yang paling bodoh dan picik yang pernah ada.

Leave a comment »

Homescholing vs sekolah konvensional

Beberapa teman bahkan saudara saya mengadopsi homescholing untuk pendidikan anak2 mereka. Berhubung saya juga bergelut dalam dunia pendidikan, berikut pendapat saya tentang homescholing dibandingkan dengan sekolah konvensional.

Konsep homescholing

Konsep awal homescholing adalah menyediakan pendidikan di rumah bagi angkatan usia sekolah yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal karena keterbatasan fisik (cacat tubuh misalnya), psikis, ataupun tidak tersedianya sekolah di area sekitar tempat tinggalnya (misalnya di hutan atau gunung atau pulau terpencil). Namun homescholing sekarang sudah bergerak jauh dari konsep awalnya. Keluarga2 di kota besar seperti Jakarta, mengadopsi homescholing bukan karena alasan di atas, melainkan karena jalanan macet, dsb.

Saya pribadi tidak meragukan kualitas homescholing dari sisi akademis, karena materi homescholing sendiri dirancang dengan bobot yang baik. Namun menurut pandangan saya, ada beberapa perbedaan mendasar antara homescholing dan sekolah konvensional, khususnya bagi perkembangan anak.

Dengan homescholing, anak akan belajar bersama orang tuanya di rumah. Materinya juga setara dengan materi yang diberikan di sekolah. Anak2 bisa lebih enjoy karena mereka belajar dengan cara yang asik, dan belajar bersama orang yang membuat mereka aman, yaitu orang tuanya atau orang di rumah yang dia kenal baik. Namun ada hal2 yang tidak bisa didapatkan anak2 yang belajar homescholing, yaitu lingkungan nyata yang disediakan oleh sekolah konvensional.

Maksudnya begini, dengan bersekolah di sekolah konvensional, anak akan memperoleh pengalaman berharga, seperti misalnya : dia sudah menyelesaikan PR2nya, semua tugas sudah beres. Namun ada teman yang membuatnya jengkel karena meminjam PRnya, sehingga ia merasa tidak nyaman. Pengalaman2 ini sebenarnya akan membuat anak belajar, bagaimana mengembangkan kecerdasan emosinya, bagaimana dia belajar mengontrol emosinya dan menyelesaikan permasalahan yang seharusnya dia tidak dapatkan. Namun demikianlah dunia, dunia itu tidak ideal. Sedangkan pada homescholing, jika anak sudah mengerjakan PR, dia sudah boleh beristirahat. Masalah2 insidentil seperti di atas tidak muncul. Anak selalu berada di dunia yang ideal, yaitu di dunia rumahnya sendiri, dengan orang tuanya sendiri. Kalaupun mereka bisa bermain2 dengan teman2nya, itupun teman2 pilihannya sendiri. Lain halnya dengan sekolah konvensional, si anak mau tidak mau harus berinteraksi dengan teman2 yang kurang dia sukai. Namun justru disitulah waktu bagi si anak untuk mengembangkan dirinya menghandle setiap permasalahan yang ada.

Di sekolah konvensional, anak2 harus belajar bagaimana menyikapi kondisi2 yang kurang nyaman, guru yang galak, teman2 yang menjengkelkan, bahkan sopir2 yang menggodanya ketika pulang sekolah. Di homescholing, anak tidak mengalami itu semua. Itu akan menimbulkan perbedaan yang besar di kemudian hari, ketika si anak beranjak dewasa.

Memang ada banyak keuntungan dari homescholing, khususnya bagi si anak dan orang tua. Anak cuma perlu menghadapi orang tuanya sendiri, yang notabene tidak akan menyakiti mereka. Si orang tua juga memperoleh keuntungan, tidak perlu kena macet di jalan, tidak perlu heboh di pagi hari, ngirit biaya bensin bulanan, belum lagi ngirit uang saku, dsb. Orang tua juga merasa aman, karena anak selalu berada dalam pantauannya. Namun jika dibandingkan dengan pengalaman hidup yang akan didapat oleh si anak, tentunya kurang sebanding.

Pengalaman pribadi

Sebagai orang tua dengan 2 anak kecil, saya juga senang, seandainya anak2 saya selalu aman, nyaman, dan hidup dalam dunia yang ideal. Namun saya lebih berusaha mengendalikan diri saya untuk melihat anak2 saya menghadapi masalah2 di sekolah, bagaimana mereka menghadapi teman2 yang menjengkelkan, dsb. Bagaimanapun juga, anak2 saya harus bisa survive dalam hidup mereka nantinya. Dan memberikan dunia yang ideal bukanlah solusi. Anak2 harus belajar untuk survive dan mengatasi masalah.

Istri saya kebetulan menjabat sebagai kepala sekolah dasar di mana murid2nya kebanyakan adalah orang2 kaya. Saya tahu betul, bagaimana orangtua2 tsb begitu sensitive dengan kondisi anak2nya. Ada masalah sedikit dengan teman2nya, langsung lapor ke istri saya. Kalau sekolah cuma memberi teguran, rasanya kurang puas. Mereka ingin agar anak yang mengganggu anaknya dikeluarkan dari sekolah. Halo…. anak2 saling berinteraksi, itu kan biasa dan bagus tho ? Makanya, seringkali ditemui, anak2 sudah bermain bersama lagi, orangtuanya masih bermusuhan. Lha, yang masih kecil itu orang tuanya atau anak2nya ya ? hehehehe….

Saya meninggalkan anak2 saya untuk sekolah di negeri orang. Tahun lalu saya sempat balik ke Indo selama sebulan. Waktu mengantar anak saya Amanda ke sekolah, dia langsung laporan ke saya “pah, itu lho koster yang suka godain aku”. Pertama2 saya langsung siaga. Biasa, insting orang tua. hahahaha…. maklum lah, zaman sekarang banyak orang jahat. Namun kemudian setelah saya minta bercerita, saya menyimpulkan bahwa itu bukanlah masalah besar. Saya hanya mencari waktu untuk menyapa koster yang bersangkutan, dan berkenalan dengannya sambil ngobrol2. Kan saya ini suami pimpinannya. hehehehe…. Beberapa bulan berlalu, saya check ke Amanda, apakah masih suka digoda, udah engga tuh. Dan hub saya dengan si koster itu masih asik2 aja.

So, back to topic, kesimpulan pendapat saya adalah : ada hal2 yang tidak bisa didapatkan oleh anak dari homescholing, khususnya kesempatan2 untuk mengembangkan kemampuannya khususnya kemampuan emosionalnya. Selanjutnya… terserah pembaca masing2 memfollow-upnya. Cheeers….

Leave a comment »

Solusi untuk bangsa: pendidikan dan KB

Sebagai seorang warga negara yang baik (cieeee…) saya merasa ikut memiliki negeri ini. Menurut pengamatan dan analisa saya, dari sekian banyaknya masalah yang harus diberesi oleh negara ini akarnya ada di masalah pendidikan dan KB (keluarga berencana).

Pendidikan itu dasar

Memperbaiki generasi yang sudah ada sekarang, kurang efektif menurut saya. Karena mereka sudah sekian puluh tahun hidup dalam kebiasaan korupsi, pungli, uang terima kasih, dsb. Lihat saja contoh paling sederhana, di airport misalnya, petugas kebersihan sudah mendapatkan gajinya sendiri. Tapi di depan toilet masih juga dipasang kotak sumbangan kebersihan. Beribu alasan disampaikan, mulai dari kemanusiaan sampai alasan keekonomian. Bisa dikatakan, di semua bidang, kita bisa dengan mudah menemui budaya “minta lebih” seperti itu. Tidak kasih lebih, tidak dapat service. Itu hukum yang berlaku.

Memperbaiki generasi yang sudah terbiasa dengan lingkungan seperti itu, akan sia2 belaka. Sebaliknya, mempersiapkan generasi penerus yang lebih berkualitas, dengan paham2 yang lebih baik, itu akan lebih efektif. Di mana itu bisa didapat ? Ya di sekolah ! Pendidikan, itu kuncinya. Memang undang2 telah menetapkan anggaran 20% dari total anggaran negara akan diberikan untuk bidang pendidikan. Namun kenyataannya, jauh dari nilai itu yang terjadi. Belum lagi yang dikorupsi sana sini. Sebagai perbandingan, profesor pembimbing saya di Taiwan ini, jika beliau berhasil menulis sebuah paper penelitian dan dimuat di jurnal internasional, maka beliau secara otomatis akan menerima 100.000 NT$ bersih (tanpa potongan, setara dengan 30 juta rupiah untuk kurs 1 NT$ = IDR 300). Belum lagi gaji lulusan S2 di sini rata2 40.000 NT$ sebulan dan 100.000 NT$ untuk lulusan s3. OK, tidak membandingkan gaji deh. Bandingkan kenyataan yang ada di lapangan saja. Teman saya sesama dosen, berhasil mendapatkan dana untuk penelitian dari negara sebesar 5 juta rupiah. Waktu yang diperlukan untuk mencairkan dana tersebut sekitar 3 bulan. Dan masih kena potongan 15% untuk universitas. Nah lo… mau ngomong apa coba ?

Sekarang ga heran, nilai2 luhur seorang guru (baca pendidik) sudah mulai luntur. Guru juga manusia, bisa ngiler lihat tetangga naik motor, sementara dia naik sepeda. Guru juga isa ngitung, kalau dia mengabdi cuma dibayar 300.000 sebulan, sementara korupsi kecil2an bisa dapat 3 juta dari uang sambilannya saja.

Back to the point, mendidik dan mempersiapkan generasi penerus menjadi lebih baik dan memiliki mental anti korupsi serta jujur jauh lebih berguna dibanding dengan ngurusi politik dan tetek bengeknya. Politik cuma memiliki satu tujuan : mencapai tujuan pribadi untuk kepentingan pribadi/golongan. Sementara pendidikan akan mempersiapkan generasi penerus bangsa yang akan duduk di tampuk pimpinan nantinya.

KB itu penting !

Selain faktor pendidikan, menurut saya, bangsa ini memiliki banyak sekali warga yang kurang produktif. Mereka dilahirkan dari keluarga yang kurang secara ekonomi/pendidikan, mereka kurang menerima pendidikan/layanan kesehatan yang memadai. Di sisi lain, mereka sudah lahir ke dunia, dan mereka harus survive. Mau ga mau, mereka harus makan. Mereka juga punya keinginan, seperti ingin beli HP, motor, dsb. Jika kondisi ekonomi ga memungkinkan, terpaksa mereka melakukan kejahatan. Toh mereka juga ga mengerti hukum secara baik. Ini membuat kondisi bangsa ini semakin ruwet. Kita bayar pajak untuk membiayai hidup penjahat2 yang ditahan. Sementara itu, hukum juga dijadikan mainan. Jadi penjahat2 itu juga engga jera.

Mengendalikan angka kelahiran, itu kuncinya. Lebih tepatnya lagi, mengendalikan angka kelahiran orang2 yang kira2 nantinya kurang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan kehidupan yang layak. Bukan bermaksud meminggirkan kaum marjinal, tapi ini untuk memutus mata rantai generasi “tak berguna” dari negeri ini. Nantinya, setelah kondisi lebih terkendali, baru kita bisa lebih mudah memikirkan program2 yang lebih baik. Bayangkan saja, Australia yang begitu luas, hanya punya penduduk sekitar 20 juta jiwa. Di kota Melbourne yang modern itu, penduduknya hanya 3 juta jiwa. Sementara Jakarta, sudah dihuni sekitar 20 juta jiwa. Penduduk kota Semarang, jauh lebih banyak dari Melbourne. Bisa dibayangkan, kualitas hidup seperti apa yang mau dikejar kalau kita tidak berusaha mengendalikan jumlah penduduk.

Saat ini, berdasarkan pengalaman pribadi, untuk KB model spiral masa pakai 5 tahun, kita harus membayar sekitar 300 ribu. Sedangkan gaji tetangga saya yang menjadi pembantu, cuma 300 ribu per bulan, untuk makan suami istri dan 3 anak. Bagaimana mau mikirin KB ? Ini sangat ironis, karena keluarga yang sangat miskin, ternyata mereka malah “memproduksi” anak lebih banyak dibanding keluarga yang lebih mapan. Kenapa ? Karena, meskipun miskin, mereka tetap punya kebutuhan sex bukan ? Dan itu tetap dilakukan tanpa berpikir lebih jauh akan konsekuensinya. Akibatnya, negara ini dipenuhi oleh anak2 yang (semoga saja tidak terjadi) memiliki masa depan kurang terjamin oleh orang tuanya. Negara mau menghandle masa depan mereka ? Tentu saja berat. Ini yang harus dipikirkan.

Kira2 itu opini saya. Semoga pihak2 yang memiliki otoritas bisa memikirkan masalah negara ini dengan lebih baik lagi. Bukan dengan bereaksi setelah masalah muncul, tapi dengan mengetahui akar permasalahan, dan mengantisipasinya sebelum masalah itu muncul. Atau… jangan2 pemimpin2 sekarang dulunya tidak sekolah ? Hush !!! Ngacooo….

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.