Ada peribahasa “you are what you ride”. Artinya, (martabat) anda tercermin dari kendaraan apa yang anda gunakan. Peribahasa ini banyak dijadikan patokan bagi cewek2 matre kalau ada cowok lagi PDKT dengan dia. Begitu si cowok mengirim sinyal2 cinta, si cewek akan segera melakukan penilaian : dia ke rumah naik mobil atau motor. Kalau naik motor, langsung dicoret dari bursa calon pacar. Kalau naik mobil, dilihat lagi, mobilnya apa. Kalau Hijet, langsung dicoret. Kalau naiknya BMW or Mercy, langsung dikasih tanda “highly recommended”. hahahaha… Ga peduli juga itu mobilnya siapa.
Pernah seorang teman yang bekerja di Jakarta, dia PDKT dengan seorang cewek yang sudah bekerja juga. Si cowok ini naik motor Yamaha Scorpio. Sudah keren kan ? Itu motor cukup mahal lho harganya. Namun ketika dia menyatakan cintanya ke si cewek, dengan jujur si cewek berkata “aku mau jadi pacarmu, kalau kamu punya mobil”. Gubraaak…. akhirnya, mungkin karena saking cintanya, si teman cowok ini menjual motornya plus membongkar tabungannya, dan membeli mobil sedan Timor. Yaah… walaupun bekas, tapi cukup keren lah…. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Namun karena berat di ongkos, akhirnya si cowok tidak kuat untuk membiayai operasional mobilnya itu. Seiring deal penjualan mobilnya, berakhir pula status mereka sebagai sepasang kekasih. Hahahaha…. ini kejadian nyata lho, bukan rekayasa.
Peribahasa yang sama juga dipakai oleh petugas bank untuk menghadapi calon debitur yang mengajukan pinjaman kredit, atau salesman untuk melayani pembeli. Kalau anda datang dengan mobil mewah (entah itu nyewa atau minjem), anda akan dilayani bak raja. Tapi kalau anda datang dengan ala kadarnya (tidak perlente), dijamin anda akan diacuhkan, atau dilayani dengan asal2an. Orang2 itu akan melayani anda dengan baik, bukan karena mereka respek dengan anda, tapi karena mereka mengincar uang anda.
Tapi saya pikir2 lagi, engga selamanya peribahasa itu berlaku lho. Coba lihat si David Beckham. Mobil BMW yang dibelinya seharga kurang lebih seratus juta rupiah saat dia belum menjadi bintang, saat ini laku terjual lebih dari semilyar rupiah. Sekarang, mobil apa saja yang dia pakai, akan dihargai lebih tinggi dari harga aslinya, hanya karena pernah dipakai oleh David Beckham.
Semalam saya teringat kepada Bpk M.L. Utomo, dekan fak psikologi Unika Soegijapranata Semarang, tempat istri saya dulu kuliah. Beliau sangat bersahaja dengan hanya menggunakan Peugeot 504 tua berwarna putih. Saat saya mencoba mengingat2 beliau, saya jadi terkesan dengan mobil itu. Bagi saya, mobil itu sangat hebat, karena yang menaikinya adalah seorang yang menurut saya sangat hebat di bidangnya. Seorang pendidik yang begitu bersahaja, namun berwibawa. Padahal mobilnya sendiri kalau dijual, paling2 sekitar 6 jutaan saja, kalah mahal dibanding motor yang saya pakai malahan. Namun saya kok tidak memandang pak Utomo rendah karena memakai mobil tua nan murah.
Setelah merenung-renung, saya memperoleh kesimpulan, bahwa orang dinilai bukan dari apa yang dia naiki, apa yang dia pakai. Sampai level tertentu, memang orang akan menilai kita dari apa yang kita pakai. Namun setelah orang tahu kita lebih jauh, orang akan menilai kita dari seperti apa kita seutuhnya. Kulit di permukaan memang selalu tampak halus. Namun kalau kulit itu dibuka, dalamnya akan kelihatan, halus atau tidak. Permukaan air laut memang bergejolak. Namun kalau kita menyelam di dalamnya, tidak seperti yang tampak di permukaan. Kuburan memang tampak indah dan mewah di luar, tapi hanya ada bangkai di dalamnya.
So, saya belajar lagi satu hal : you are NOT what you ride. Kalau saya berusaha meyakinkan orang supaya orang respek terhadap saya dengan barang2 yang saya miliki, maka saya adalah orang yang tidak percaya diri. Namun sebaliknya, kalau saya menilai orang dari apa yang kelihatan di permukaan saja, maka saya adalah orang yang paling bodoh dan picik yang pernah ada.