Berada di negara dengan akses internet begitu cepat, dan setiap hari berkutat di depan komputer, membuat gue selalu update dengan berita2 dari internet. Ga cuma berita2, tapi berhubung akses internetnya begitu cepat, kontent2 gambar dan video2 pun sering gue lihat. Dan gue menyimpulkan, manusia di zaman ini begitu jahatnya. Berbagai macam kejahatan yang begitu sadis, terpampang secara gamblang di internet. Mungkin dengan adanya internet, hal2 yang dulu tidak terekspos, jadi terekspos. Dan gue terkejut dengan realita kehidupan yang ada.
Manusia sudah melebihi binatang. Kalau binatang membunuh sesamanya untuk survive dan bertahan hidup, manusia lebih sadis lagi : untuk memuaskan gengsi dan egonya. Bahkan dalam beberapa kasus, untuk memuaskan kegilaannya. Orang tua dulu bilang, zaman ini adalah zaman edan (gila). Yen ora edan, ora keduman (kalau tidak ikut gila, engga bakal kebagian). Itu benar adanya. Namun pesan orang tua itu tidak berhenti sampai di situ. Ada kelanjutannya : neng wong sing tetep eling lan waspodo, bakal selamet (tapi orang yang tetap ingat dan waspada akan selamat).
Gue sangat tidak bisa menahan diri, kalau melihat/mendengar kasus2 kejahatan yang melibatkan anak kecil dan bayi. Orang2 dewasa, hanya demi memuaskan nafsu sexnya, akhirnya membunuh bayi yang baru lahir karena mereka tidak siap bertanggungjawab. Dengan cara2 yang tidak pernah terbayangkan sadisnya, bayi2 tak berdosa itu terpaksa harus mati. Apakah orang2 dewasa itu menyesal ? Kebanyakan tidak. Mereka mengulangi hal yang sama. Kalaupun mereka tidak membunuh bayi mungil itu, mereka tidak melindungi, menyayangi, dan membesarkan mereka dengan penuh kasih dan tanggungjawab. Hasilnya lebih parah lagi, anak2 itu akan tumbuh besar dengan luka hati yang begitu dalam. Dan akhirnya mereka akan melakukan kejahatan yang lebih sadis karena luka hati yang tak terobati itu.
Seorang bayi kecil seharusnya diselimuti kain supaya tidak kedinginan, berada di dekapan ibunya dan menyusui ASI yang memberi kehidupan, merasakan tatapan lembut ayah ibunya, dan merasa aman dekat dengan orang tuanya. Namun seringkali ada bayi yang bernasib malang. Ayah ibu yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya, menjadi serigala yang mengerikan baginya.
Aku melihat di pom bensin Pandanaran Semarang, seorang bayi yang berusia sekitar 3 bulan, yang seharusnya digendong dengan lembut dan hati2 oleh ibu/ayahnya, bayi itu digendong kakaknya dengan berlari2 mengemis di jalan. Bayi yang seharusnya minum ASI itu, terpaksa minum air putih. Di mana orang tuanya ? Bayi yang seharusnya masih makan pisang lembut itu, terpaksa makan roti pemberian orang yang lewat.
Dunia ini begitu jahat terhadap bayi dan anak kecil. Anak2 perempuan dilecehkan oleh orang2 dewasa, sementara anak2 laki-laki dirusak oleh contoh2 buruk seperti merokok, berkelahi, memeras orang lain, dsb. Anak perempuan umur 9 tahun dinikahi orang dewasa, anak perempuan umur 12 tahun dinikahi tokoh agama, sementara yang lain dijual ibunya sendiri untuk membayar hutangnya yang cuma 5 juta (baca berita2nya di internet). Masa kanak2 yang seharusnya indah dan penuh warna terpaksa hilang tanpa ada yang peduli. Anak2 itu tidak mampu berteriak dan melepaskan diri. Generasi yang akan datang sangat terancam keberadaannya.
Seringkali gue melihat ke dalam mata seorang bayi atau anak kecil. Begitu polos, tanpa prasangka. Seakan-akan bagi mereka dunia ini begitu hangat, nyaman, dan welcome kepada mereka. Namun ternyata orang2 dewasa menipu mereka. Orang2 dewasa itu sedang bersiap2 menerkam mereka. Gue membayangkan, kalau mereka mati, lalu kembali menghadap Tuhan, apa yang akan dilaporkan mereka kepada Sang Pencipta ? Adakah mereka melaporkan bahwa ayah ibunya begitu sayang kepada mereka ? Adakah mereka melaporkan bahwa orang2 dewasa telah memberikan lingkungan yang baik kepada mereka ? Adakah mereka melaporkan bahwa mereka telah mendapatkan teladan dan contoh2 yang baik dari orang2 dewasa di sekelilingnya ?
Safe our children ! Love them !
Footnote:
Gue ingin menyampaikan rasa hormat gue kepada guru2 playgroup, TK, dan SD yang di tengah2 masalah mereka tentang keuangan dan berbagai macam kesulitan hidup, tetap mengajarkan kepada anak2 rasa saling mengasihi, saling menyayangi, saling membantu. Di tangan merekalah nasib generasi yang akan datang dipertaruhkan.